Sabtu, 18 Mei 2013

Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi


Kata Pengantar
    Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas softskill bahasa Indonesia saya yang berjudul  Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi .  Karena terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis maka makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di perlukan penulis.
   Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada pihak pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).dan program ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat dan dari sini saya mengambil judul “Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi”.


1.2 Permasalahan
      Apakah dengan program koperasi one village one product dapat menghasilkan suatu produk yang khasdan menambah omset koperasi.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui apakah dari program koperasi one village one product (OVOP) dapat meningkatkan pendapatan koperasi.






BAB II

PEMBAHASAN



2.1 Artikel tentang Pemerintah Anggarkan Rp 2,2 Miliar Untuk Pengembangan UMKM.

     MAGELANG, KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).
Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kemenkop & UKM RI, I Wayan Dipta menyebutkan masing-masing koperasi akan mendapatkan dana Rp 100 juta. "Selama ini sudah ada 73 koperasi yang mendapat bantuan tersebut," jelasnya usai membuka kegiatan Sosialisasi Regional Pengembangan produk Unggulan Desa dengan Pendekatan OVOP melalui Koperasi se-Sumatra dan Jawa di Hotel Atria Kota Magelang, Jumat (17/5/2013).
Program OVOP, kata Wayan, adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.
Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat. "Kita sudah merancang 5 dari 7 produk rintisan OVOP tahun depan," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih saat membacakan sambutan Gubernur Bibit Waluyo dalam kegiatan tersebut.
Lima produk tersebut antara lain,Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus.
Dijelaskan Rustri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan OVOP ini, yakni  penyediaan SDM, bahan baku dan permodalan, kelembagaan dan jaringan usaha, teknologi pengolahan, packing product (kemasan) dan brand product, hingga pemasaran produk.
Selain itu, Pemprov Jateng mencatat, hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
"Untuk mendukung itu semua kita sudah buat pelatihan, sosialisasi dan sebagainya," katanya. Melalui kegiatan yang akan berlansung hingga 19 Mei 2013 itu, pihaknya berharap tidak hanya sebagai sarana promosi produk antar daerah di Jawa dan Sumatera, tapi juga bisa terjalin komunikasi dan sharing pengetahuan antardaerah


2.2  Pembahasan tentang sistem koperasi mengenai program koperasi one village one product (OVOP).
 Program One Village One product merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang pelaksanaannya didasari pada Inpres No. 6 Tahun 2007 Tentang Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah tanggal 8 Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP. Program ini dilakukan pada produk yang memiliki ciri khas daerah setempat atau produk yang secara kultural masyarakat yang memiliki potensi pasar baik domestik maupun pasar ekspor.
Tujuan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Pendekatan OVOP
1. Mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional.
2. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan produk dari luar negeri (impor)
3. Khusus kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam mengembangkan OVOP harus melalui Koperasi dan UKM.
4. Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.




     BAB III  

KESIMPULAN

 Dari artikel diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dari program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi dapat mengsahilkan produk yang khas diberbagai daerah misalnya  Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP dan yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus. hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
Daftar Pustaka:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar