Senin, 07 Oktober 2013

Analisa Manfaat Berdirinya Suatu Perusahaan Dengan Menggunakan Teori Utilitarian (Tugas 2 Etika Bisnis)




Teori

Etika Utilitarian adalah paham dalam filsafat moral yang menekankan manfaat atau kegunaan dalam menilai suatu tindakan sebagai prinsip moral yang paling dasar, untuk menentukan bahwa suatu perilaku baik jika bisa memberikan manfaat kepada sebagian besar konsumen atau masyarakat. dalam konsep ini dikenal juga “Deontologi” yang berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Deontologi adalah teori etika yang menyatakan bahwa yang menjadi dasar baik buruknya suatu perbuatan adalah kewajiban seseorang untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana keinginan diri sendiri selalu berlaku baik pada diri sendiri.Teori utilitarian mengatakan bahwa suatu kegiatan bisnis adalah baik dilakukan jika bisa memberikan manfaat kepada masyarakat disekitar.

Kasus

Dalam tugas kali ini saya akan menganilis tentang manfaat dari kehadiran perusahaan PT. Lego Label Indonusa jalan Suci no 4  dilingkungan saya.
Analisis

Dilingkungan tempat saya tinggal terdapat perusahaan yang bernama PT. Lego Label Indonusa jalan Suci no 4  perusahaan ini bergerak dibidang garment atau tekstik pakaian Dengan adanya perusahaan yang ada di lingkungan saya ini sangat membantu warga, pada perusahaan ini sebagian besar pegawainya berasal dari lingkungan tempat saya tinggal (khususnya wanita).dan sebagian besar yang dibutuhkan perusahaan ini kebanyakan adalah wanita oleh sebab itu warga disini khususnya wanita (usia 17-30 tahun) tidak lagi yang namanya menggangur. warga disini sangat terbantu dengan adanya perusahaan ini, karena dapat memberikan pertumbuhan ekonomi bagi warga sekitar sekaligus membantu tambahan keuangan pada keluarga mereka dan dengan adanya perusahaan ini dapat menciptakan lapangan kerja bagi warga atau pendatang yang ingin mencari kerja.perusahaan ini cukup terkenal di dalam negri dan luar negri oleh karena itu pegawai akan dilatih agar dapat mempunyai kreatifitas yang tinggi sehingga dia akan dapat menghasilkan produk yang sangat berkualitas hal ini sangat bermanfaat karena dia sudah dibekali ilmu-ilmu yang diberikan perusahaan jadi seandainya ia keluar dan menjadi seorang perancang atau konfeksi dia sudah mempunyai bekal yang matang.

Referensi

Dr. Keraf, A. Sonny. Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya.Yogyakarta: Kanisius 2006

                     

Rabu, 02 Oktober 2013

Penjelasan Mengenai Adat Istiadat Dalam Keluarga Saya Dan Masyarakat


1.Teori

Pengertian 
Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia.
Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Budiono K, menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan.
Beberapa pengertian kebudayaan berbeda dengan pengertian di atas, yaitu:
  1. Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan   sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu.
  2. Kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan kepercayaan seni, moral, hukum, adat serta kemampuan serta kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  3. Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya yaitu masyaraakat yang menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan yang terabadikan pada keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia yaitu kebijaksanaan yang sangat tinggi di mana aturan kemasyarakatan terwujud oleh kaidah-kaidah dan nilai-nilai sehingga denga rasa itu, manusia mengerti tempatnya sendiri, bisa menilai diri dari segala keadaannya.
  4.  



2. Kasus

    Bagaimana adat istiadat jawa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada keluarga dan masyarakat dilingkungan tempat saya tinggal

3. Analisis

     Dalam kehidupan sehari-hari saya dikenalkan dengan adat istiadat yaitu adat jawa, adat ini diajarkan atau diterapkan ke dalam keluarga saya mulai dari kecil hingga tumbuh dewasa  dengan diterapkannya adat jawa ini saya  diperkenalkan dengan yang namanya etika sopan santun, selalu menghargai sesama manusia dan saya selalu dilatih menggunakan adat jawa supaya saya terbiasa mempunyai sikap kejujuran dalam diri saya dan saya juga diajarkan selalu bekerja keras demi mencapai cita-cita,ulet dalam bekerja.
   Dalam kehidapan ini saya juga diajarkan dengan namanya etika atau tata krama, etika tersebut dibagi menjadi etika berbicara dan tingkah laku dalam etika berbicara saya sangat dituntut untuk selalu berbicara jujur,menjaga ucapan saat berbicara pada orang lain agar tidak dapat menyakiti perasaanya dan dalam etika tingakah laku saya dituntuk untuk selalu sopan dan menghargai  kepada orang yang lebih tua,menyangi  saudara dan yang paling terpenting harus bisa bawa sikap diri dengan menujukan sikap positif di dunia luar.
Pada keluarga kami juga ditanamkan tradisi bersilahturahmi dengan masyarakat maupun dengan saudara sendiri dengan diajarkannya silahturahmi kepada saya,saya dapat mengenal lingkungan dengan baik mulai dari tetangga sekeliling rumah sampai dilingkungan luar, dan Alhamdulillah sampai saat ini saya dikenal masyarakat dengan baik dan juga saya masuk kedalam organisasi karang taruna remaja yang  dibentuk oleh lingkungaan tempat saya tinggal
     Jadi kesimpulan yang saya bisa ambil dari diterapkanya adat dalam keluarga saya dapat bersikap sesuai dengan etika yang ada di masyarakat dan juga dapat menumbuhkan rasa keharmonisan di dalam keluarga dan masyarakat.dengan menjadi anggota organisasi karang taruna saya juga dapat berguna bagi masyarakat baik dari segi pikiran maupun segi tenaga.  

4. Referensi

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2005). Kusumohamidjojo, Filsafat Kebudayaan; Proses Realisasi Manusia, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010). Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta: Teras, 2009).
Rachels, Filsafat Moral, judul asli The Elements of Moral Philosophy,A. Sudiarja (terj), (Yogyakarta: Kanisius, 2004). A.R Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002).


Sabtu, 18 Mei 2013

Resensi Artikeal


Resensi Artikel

11.      Data Publikasi

a.       Judul                           Pemerintah Anggarkan Rp 2,2 Miliar Untuk Pengembangan UMKM.
b.      Penulis                         : Ika Fitriana 
c.       Penerbit                       : Kompas.com
d.      No/Tanggal                 : 1/17 Mei 2013
e.       No Hal                        : 1 Halaman
f.       Tema                           : ekonomi koperasi

22.      Sinopsis/Ringkasan
MAGELANG, KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).
Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kemenkop & UKM RI, I Wayan Dipta menyebutkan masing-masing koperasi akan mendapatkan dana Rp 100 juta. "Selama ini sudah ada 73 koperasi yang mendapat bantuan tersebut," jelasnya usai membuka kegiatan Sosialisasi Regional Pengembangan produk Unggulan Desa dengan Pendekatan OVOP melalui Koperasi se-Sumatra dan Jawa di Hotel Atria Kota Magelang, Jumat (17/5/2013).
Program OVOP, kata Wayan, adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.
Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat. "Kita sudah merancang 5 dari 7 produk rintisan OVOP tahun depan," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih saat membacakan sambutan Gubernur Bibit Waluyo dalam kegiatan tersebut.
Lima produk tersebut antara lain,Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus.
Dijelaskan Rustri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan OVOP ini, yakni  penyediaan SDM, bahan baku dan permodalan, kelembagaan dan jaringan usaha, teknologi pengolahan, packing product (kemasan) dan brand product, hingga pemasaran produk.
Selain itu, Pemprov Jateng mencatat, hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
"Untuk mendukung itu semua kita sudah buat pelatihan, sosialisasi dan sebagainya," katanya. Melalui kegiatan yang akan berlansung hingga 19 Mei 2013 itu, pihaknya berharap tidak hanya sebagai sarana promosi produk antar daerah di Jawa dan Sumatera, tapi juga bisa terjalin komunikasi dan sharing pengetahuan antardaerah.


33.      Keunggulan

Keunggulan dalam artikel ini adalah dilengkapi dengan data – data yang diperlukan untuk menunjang pernyataan yang ada. Selain itu artikel ini sangat berguna bagi para pembaca karena dapat mengetahui produk-produk khas dari berbagai daerah dan dapat mengetahuui tentang rencana koperasi menciptakan program koperasi one village one product (OVOP)

44.      Kelemahan

Kelemahan dari artikel ini adalah dai segi penggunaan bahasa. Banyak kalimat yang terdapat kata – kata yang mubazir dan banyak kalimat – kalimat yang tidak menggunakan bahasa baku. Padahal ini adalah forum resmi yang seharusnya menggunakan bahasa baku.

55. Pendapat Akhir/ Saran

Saran dari peresensi jika program ini terus terlaksana maka koperasi akan dapat memperkenalkan produk yang lebih khas lagi dari berbagai daerah dan dapat mensejahterakan para anggotanya.
Saran bagi penulis artikel adalah hendaknya lebih memperhatikan lagi penggunaan bahasa dan kalimat – kalimatnya. 

Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi


Kata Pengantar
    Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas softskill bahasa Indonesia saya yang berjudul  Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi .  Karena terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis maka makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di perlukan penulis.
   Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada pihak pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).dan program ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat dan dari sini saya mengambil judul “Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi”.


1.2 Permasalahan
      Apakah dengan program koperasi one village one product dapat menghasilkan suatu produk yang khasdan menambah omset koperasi.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui apakah dari program koperasi one village one product (OVOP) dapat meningkatkan pendapatan koperasi.






BAB II

PEMBAHASAN



2.1 Artikel tentang Pemerintah Anggarkan Rp 2,2 Miliar Untuk Pengembangan UMKM.

     MAGELANG, KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).
Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kemenkop & UKM RI, I Wayan Dipta menyebutkan masing-masing koperasi akan mendapatkan dana Rp 100 juta. "Selama ini sudah ada 73 koperasi yang mendapat bantuan tersebut," jelasnya usai membuka kegiatan Sosialisasi Regional Pengembangan produk Unggulan Desa dengan Pendekatan OVOP melalui Koperasi se-Sumatra dan Jawa di Hotel Atria Kota Magelang, Jumat (17/5/2013).
Program OVOP, kata Wayan, adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.
Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat. "Kita sudah merancang 5 dari 7 produk rintisan OVOP tahun depan," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih saat membacakan sambutan Gubernur Bibit Waluyo dalam kegiatan tersebut.
Lima produk tersebut antara lain,Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus.
Dijelaskan Rustri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan OVOP ini, yakni  penyediaan SDM, bahan baku dan permodalan, kelembagaan dan jaringan usaha, teknologi pengolahan, packing product (kemasan) dan brand product, hingga pemasaran produk.
Selain itu, Pemprov Jateng mencatat, hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
"Untuk mendukung itu semua kita sudah buat pelatihan, sosialisasi dan sebagainya," katanya. Melalui kegiatan yang akan berlansung hingga 19 Mei 2013 itu, pihaknya berharap tidak hanya sebagai sarana promosi produk antar daerah di Jawa dan Sumatera, tapi juga bisa terjalin komunikasi dan sharing pengetahuan antardaerah


2.2  Pembahasan tentang sistem koperasi mengenai program koperasi one village one product (OVOP).
 Program One Village One product merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang pelaksanaannya didasari pada Inpres No. 6 Tahun 2007 Tentang Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah tanggal 8 Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP. Program ini dilakukan pada produk yang memiliki ciri khas daerah setempat atau produk yang secara kultural masyarakat yang memiliki potensi pasar baik domestik maupun pasar ekspor.
Tujuan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Pendekatan OVOP
1. Mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional.
2. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan produk dari luar negeri (impor)
3. Khusus kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam mengembangkan OVOP harus melalui Koperasi dan UKM.
4. Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.




     BAB III  

KESIMPULAN

 Dari artikel diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dari program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi dapat mengsahilkan produk yang khas diberbagai daerah misalnya  Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP dan yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus. hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
Daftar Pustaka:

Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi


Kata Pengantar
    Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas softskill bahasa Indonesia saya yang berjudul  Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi .  Karena terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis maka makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di perlukan penulis.
   Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada pihak pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).dan program ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat dan dari sini saya mengambil judul “Pengembangan UMKM melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi”.


1.2 Permasalahan
      Apakah dengan program koperasi one village one product dapat menghasilkan suatu produk yang khasdan menambah omset koperasi.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui apakah dari program koperasi one village one product (OVOP) dapat meningkatkan pendapatan koperasi.






BAB II

PEMBAHASAN



2.1 Artikel tentang Pemerintah Anggarkan Rp 2,2 Miliar Untuk Pengembangan UMKM.

     MAGELANG, KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UMKM menganggarkan Rp 2,2 Miliar untuk pengembangan UMKM di seluruh Indonesia. Dana ini akan dialokasikan khusus untuk program koperasi one village one product (OVOP).
Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kemenkop & UKM RI, I Wayan Dipta menyebutkan masing-masing koperasi akan mendapatkan dana Rp 100 juta. "Selama ini sudah ada 73 koperasi yang mendapat bantuan tersebut," jelasnya usai membuka kegiatan Sosialisasi Regional Pengembangan produk Unggulan Desa dengan Pendekatan OVOP melalui Koperasi se-Sumatra dan Jawa di Hotel Atria Kota Magelang, Jumat (17/5/2013).
Program OVOP, kata Wayan, adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas produk unggulan masing-masing daerah. Sebagai dampingan program, lanjutnya, ada sebuah koperasi untuk membantu penyediaan bahan baku, pemasaran, packaging, dan aspek managerial lainnya. Sementara itu, di Jawa Tengah, sebanyak 70 produk unggulan dari 35 provinsi ditargetkan masuk dalam program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi.
Semua produk-produk tersebut nantinya akan menjadi produk khas dari daerah setempat. "Kita sudah merancang 5 dari 7 produk rintisan OVOP tahun depan," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih saat membacakan sambutan Gubernur Bibit Waluyo dalam kegiatan tersebut.
Lima produk tersebut antara lain,Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus.
Dijelaskan Rustri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan OVOP ini, yakni  penyediaan SDM, bahan baku dan permodalan, kelembagaan dan jaringan usaha, teknologi pengolahan, packing product (kemasan) dan brand product, hingga pemasaran produk.
Selain itu, Pemprov Jateng mencatat, hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
"Untuk mendukung itu semua kita sudah buat pelatihan, sosialisasi dan sebagainya," katanya. Melalui kegiatan yang akan berlansung hingga 19 Mei 2013 itu, pihaknya berharap tidak hanya sebagai sarana promosi produk antar daerah di Jawa dan Sumatera, tapi juga bisa terjalin komunikasi dan sharing pengetahuan antardaerah


2.2  Pembahasan tentang sistem koperasi mengenai program koperasi one village one product (OVOP).
 Program One Village One product merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang pelaksanaannya didasari pada Inpres No. 6 Tahun 2007 Tentang Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah tanggal 8 Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP. Program ini dilakukan pada produk yang memiliki ciri khas daerah setempat atau produk yang secara kultural masyarakat yang memiliki potensi pasar baik domestik maupun pasar ekspor.
Tujuan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Pendekatan OVOP
1. Mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional.
2. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan produk dari luar negeri (impor)
3. Khusus kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam mengembangkan OVOP harus melalui Koperasi dan UKM.
4. Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.




     BAB III  

KESIMPULAN

 Dari artikel diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dari program One Village One Product (OVOP) berbasis koperasi dapat mengsahilkan produk yang khas diberbagai daerah misalnya  Sarung Goyor Pemalang, Sarung Goyor Sragen, Tenun Lurik Batik dari Klaten, Tenun Troso Jepara dan Batik Surakarta. Sebelumnya pada tahun 2012, ada dua sasaran rintisan OVOP dan yang mendapatkan alokasi dana yakni produk Carica di Kabupaten Wonosobo dan Bordir di Kabupaten Kudus. hingga Mei  2013 ini, jumlah koperasi di Jawa Tengah sebanyak 27.010 unit dengan omzet mencapai  Rp 8,907 triliun. Sementara itu, untuk jumlah UMKM pada tahun 2012 sebanyak 80.583 UMKM, dengan omzet mencapai  Rp 18,972 triliun.
Daftar Pustaka:

Kamis, 09 Mei 2013

Perkembangan Meningkatnya Kondisi Bisnis Dan Ekonomi konsumen Dimasa Depan


Kata Pengantar
    Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas softskill bahasa Indonesia saya yang berjudul Perkembangan Meningkatnya Kondisi Bisnis Dan Ekonomi konsumen Dimasa Depan .
.  Karena terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis maka makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di perlukan penulis.
   Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada pihak pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.



BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejauh ini kondisi bisnis dan kondisi ekonomi konsumen dapat dirasakan telah mengalami peningkatan yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi diindonesia disini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kondisi bisnis dan ekonomi konsumen yang terus meningkat disejumlah daerah-daerah diseluruh Indonesia Oleh karena masalah itu penulis memutuskan untuk mengambil judul. Perkembangan Meningkatnya Kondisi Bisnis Dan Ekonomi konsumen Dimasa Depan .

1.2 Permasalahan
Apakah kondisi bisnis dan kondisi ekonomi konsumen akan terus mengalami peningkatan dimasa depan?
1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui peningkatan kondisi bisnis dan kondisi ekonomi konsumen di indonesia.
2.      Untuk memperkirakan kondisi bisnis dan ekonomi konsumen dimasa depan







BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Kondisi Bisnis (ITB) Triwulan I-2013
Secara umum kondisi bisnis di Indonesia pada triwulan I-2013 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan nilai ITB sebesar 102,34. Tingkat optimisme pelaku bisnis dalam melihat potensi bisnis triwulan I-2013 di Indonesia lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (nilai ITB sebesar 105,29).
Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan I-2013 tertinggi terjadi pada pada Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 112,26). Sektor lainnya yang mengalami peningkatan bisnis adalah Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 103,19), Pengangkutan dan Komunikasi (nilai ITB sebesar 105,16), serta Sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan (nilai ITB sebesar 108,72). Sementara, sektor-sektor yang mengalami penurunan antara lain: Industri Pengolahan (nilai ITB sebesar 98,96); Jasa-jasa (nilai ITB sebesar 98,42); Konstruksi (nilai ITB sebesar98,84); serta sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (nilai ITB sebesar 99,54); dan penurunan palingtinggi terjadi pada Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (nilai ITB sebesar 96,01). Dilihat berdasarkan variabel pembentuknya, peningkatan kondisi bisnis pada triwulan I-2013 terjadi karena adanya peningkatan penggunaan kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 103,82) dan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 101,42). Sedangkan rata-rata jumlah jam kerja relatifstagnan (nilai indeks sebesar 100,21). Peningkatan tertinggi untuk penggunaan kapasitas produksi/usaha terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi (nilai indeks sebesar 114,29), sebaliknya penurunan terjadi pada Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (nilai indeks sebesar 95,16).


2.1.1 Perkiraan kondisi Bisnis (ITB) Triwulan II-2013
Nilai ITB triwulan II-2013 diperkirakan sebesar 106,27, artinya secara umum kondisi bisnis pada triwulan II-2013 diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan I-2013. Tingkat optimism pelaku bisnis dalam melihat potensi bisnis pada triwulan II-2013 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2013. Seluruh sektor ekonomi diperkirakan mengalami peningkatan kondisi bisnis pada triwulan II-2013. Sektor Industri Pengolahan diperkirakan mengalami peningkatan bisnis tertinggi dengan nilai indeks sebesar 110,98. Dilihat berdasarkan variabel pembentuknya, peningkatan kondisi bisnis pada triwulan II-2013 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan harga jual produk (nilai indeks sebesar 107,55), order dalam negeri (nilai indeks sebesar 107,23), order barang input (nilai indeks sebesar 106,15), dan order dari luar negeri (nilai indeks sebesar 101,84). Peningkatan tertinggi untuk harga jual produk diperkirakan terjadi pada Sektor Industri Pengolahan (nilai indeks sebesar 122,73), sebaliknya penurunan terjadi pada Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan (nilai indeks sebesar 96,19).

2.2 KONDISI EKONOMI KONSUMEN
2.2.1 Penjelasan Umum
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkanBadan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks yangmenggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulanmendatang. Sebelum triwulan I-2011, BPS hanya melaksanakan STK di wilayah Jabodetabek, tetapi sejak triwulan I-2011 pelaksanaan STK diperluas di seluruh provinsi. Jumlah sampel pada Triwulan I-2013 sebanyak 12.717 rumah tangga. Responden STK merupakan subsampel dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) khusus di daerah perkotaan. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antar triwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antar waktu. Dengan adanya perluasan sampel, nilai ITK dapat disajikan sampai level provinsi. Upaya ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan data yang semakin beragam hingga tingkat regional (spasial antar provinsi).

2.2.2 Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013
 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) nasional pada triwulan I-2013 sebesar 104,70 artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme konsumen turun dibandingkan triwulan sebelumnya (nilai ITK sebesar 108,63). Membaiknya kondisi ekonomi konsumen didorong oleh peningkatan pendapatan dan rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi. Sedangkan tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan, dan bukan makanan relatif tidak mengalami perubahan. Perbaikan kondisi ekonomi konsumen di tingkat nasional terjadi karena ada peningkatan kondisi ekonomi konsumen di semua provinsi (33 provinsi), dimana 17 provinsi diantaranya (51,52 persen) memiliki nilai indeks di atas nasional. Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi adalah Banten (nilai ITK sebesar 108,34). Sebaliknya, Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 101,53.


2.2.3 Perkiraan Ekonomi  Konsumen (ITK) Triwulan II-2013
Nilai ITK nasional pada triwulan II-2013 diperkirakan sebesar 108,82, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik. Tingkat optimisme konsumen diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2013 (nilai ITK sebesar 104,70). Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II-2013 didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga mendatang (nilai indeks sebesar 110,34) dan rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan (nilai indeks sebesar 106,08). Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II-2013 terjadi di semua provinsi di Indonesia (33 provinsi), dimana 14 provinsi diantaranya (42,42 persen) memiliki nilai indeks di atas nasional. Tiga provinsi yang memiliki perkiraan nilai ITK tinggi adalah Bali (nilai ITK sebesar 114,34), Kalimantan Timur (nilai ITK sebesar 111,68), dan DKI Jakarta (nilai ITK sebesar 111,61). Sebaliknya, tiga provinsi yang memiliki perkiraan nilai ITK rendah adalah Nusa Tenggara Timur (nilai ITK sebesar 105,76), Papua (nilai ITK sebesar 105,99), dan Aceh (nilai ITK sebesar 106,62). Perkiraan nilai ITK triwulan II-2013 tingkat nasional dan provinsi

Kesimpulan
Jadi dilihat berdasarkan variabel pembentuknya, peningkatan kondisi bisnis pada triwulan II-2013 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan harga jual produk (nilai indeks sebesar 107,55), order dalam negeri (nilai indeks sebesar 107,23), order barang input (nilai indeks sebesar 106,15), dan order dari luar negeri (nilai indeks sebesar 101,84). Peningkatan tertinggi untuk harga jual produk diperkirakan terjadi pada Sektor Industri Pengolahan (nilai indeks sebesar 122,73), sebaliknya penurunan terjadi pada Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan (nilai indeks sebesar 96,19).dan Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II-2013 terjadi di semua provinsi di Indonesia (33 provinsi), dimana 14 provinsi diantaranya (42,42 persen) memiliki nilai indeks di atas nasional. Tiga provinsi yang memiliki perkiraan nilai ITK tinggi adalah Bali (nilai ITK sebesar 114,34), Kalimantan Timur (nilai ITK sebesar 111,68), dan DKI Jakarta (nilai ITK sebesar 111,61). Sebaliknya, tiga provinsi yang memiliki perkiraan nilai ITK rendah adalah Nusa Tenggara Timur (nilai ITK sebesar 105,76), Papua (nilai ITK sebesar 105,99), dan Aceh (nilai ITK sebesar 106,62).